Minggu, 2009 Juni 28

BATURRADEN MENGESANKAN


Perjalanan yang bertolak sekitar jam 07 di hari Minggu terakhir di bulan Juni 2009 memberikan banyak kesan yang menakjubkan . Hari itu adalah hari ke-28 di bulan Juni yang merupakan bagian dari hari libur panjang di tahun ajaran ini. Walau Mu'allimin belum libur secara resmi, tapi hari itu adalah hari penantian nasib bagi setiap siswanya. Apakah mereka berada pada kubu yang " Man utiya kitabahu biyaminih, atau sebaliknya. Dalam penantian yang mendebarkan ini mereka berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan melakukan aktifitas tour ke Baturraden.

Bus yang ditumpangi peserta tour melaju dengan mulus tanpa ada halangan yang berarti. Banyak keindahan yang disuguhkan alam selama perjalanan. Ada gunung yang menjulang tinggi, kali yang dialiri air yang jernih, tanah pertanian yang menghijau, serta deretan toko-toko perkotaan yang berhimpit-himpitan. Semuanya berpadu menjadi mozaik eksotis menghibur hati yang gundah. Suara nyanyian peserta tour terdengar manambah hiruk pikuk keadaan dalam bus. Semuanya begitu bahagia, terasa penat dan payah selama di asrama tershempaskan berganti keriangan.

Akhirnya bus kemudian berhenti di area parkir pariwisata setelah 4 jama perjalanan. Nampak beberapa bus para pengunjung lain berjejer rapi di area parkir, begitu ramai pengunjung di hari itu. Ada yang tua, muda, anak-anak sampai pada yang masih cabang bayi juga ikut meramaikan suasana Baturraden. Entahlah apa sebenarnya yang mereka cari di tanah pegunungan yang berudara cukup dingin ini. Keindahan, keramaian atau ketengangan?? Tak jelas apa yang dicari, tapi yang jelas Baturraden adalah magnet mengesankan yang menyeret beribu-ribu manusia.

Jalan menuju lokasi wisata menanjak tajam, namun semua itu tidak menjadi kendala bahkan menjadi tantangan yang menggairahakan untuk ditaklukkan. Suasana keriangan mengumbar dari seluruh peserta tour, masing-masing mereka mempunyai gaya tersendiri yang unik dan menggelikan. Maklum mereka adalah anak-anak yang berada pada masa puber, masa pencariaan jati diri, karenanya berbagai cara mereka lakukan untuk mengeksiskan dirinya. Semuanya nampak wajar-wajar saja, sewajar dengan perkembangan psikoogi mereka.

Sesampainya di lokasi, semuanya berkumpul di bundaran ikon Baturraden untuk berpose bersama, kemudian setelahnya mereka memilih untuk berjalan-jalan sendiri menikmati suasana alam yang indah nan menggairahkan. Sebagian ada yang ke kolam renang,sebagian yang lain ada yang ke air terjun. Semuanya benar-benar menikmati suguhan Baturraden. Nampak beberapa juga masih ada yang enggan untuk mengeksplorasi seluruh wisata. Enggan karena ada suguhan yang berada di luar pengelola wisata, yaitu ulah para pengunjungnya. Pokoknya ada deh yang aneh..... !!!!

Para pengunjungnya yang multi ragam menyuguhkan banyak keragaman juga. Ada yang konyol, lucu tapi yang paling mengerikan dan menarik adalah ulah para pengunjung yang sengaja mengumbar birahi tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Mereka adalah pasangan-pasangan muda yang mencoba mengeksiskan dirinya lewat dekapan-dekapan birahi di balik kerumunan dan keindahan Baturraden. Tanpa sengaja dan tidak dapat dielakkan lagi suguhan mencengangkan itu akan dengans sendirinya mudah diakses oleh siapa saja yang datang. Walau risih dengan pemandangan ini, para peserta tour tetap tersenyum dan tertawa lepas tak hiraukan semua itu.

Kurang lebih tiga jam penjelajahan Baturraden akhirnya harus diakhiri juga. Tepat jam 15.00 WIB semua peserta sudah berkumpul di bundaran Ikon Baturraden untuk bersiap pulang. Puas rasanya melepas semua gumpalan penat yang selama ini menggurendel, kini semuanya lega. Setelah semua peserta sudah lengkap, para peserta melangkah meninggalkan Baturraden. Sementara di parkiran, bus yang ditumpangi para peserta tour sudah menunggu dari tadi. Tepat jam 4 sore bus meninggalkan lokasi menuju Jogjakarta setelah sebelumnya mampir di ruamahanya Alfan untuk makan bersama. Tepat jam 22.00 akhirnya kami anak-anak II C dapat kembali dengan selamat sampai di kampus tercinta Mu'allimin.

Kamis, 2009 Juni 25

MENIKMATI MALAM LIBURAB EKSOTIS DI MALIOBORO

Bulan Juni merupakan bulan yang cukup dinanti oleh kalangan pelajar dan perangkatnya. Karena pada minggu terakhir di bulan tersebut mereka bisa melepas penat setelah setahun penuh disibukkan dengan rutinitas yang cukup memeras otak. Banyak cara untuk melepas penat tersebut, ada yang di rumah saja dengan seabrek kegiatan santai, sampai pada kegiatan piknik dan berpariwisata bersama teman-teman sejawat. Pada hakikatnya akhir bulan Juni bagi para pelajar di Indonesia adalah masa melepas lelah dan masa linburan panjang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Yogyakarta sebagai salah satu kota yang tidak pernah sepi dari pengunjung, baik yang hanya sekadar datang per-orangan, ataupun yang datang secara kolegial, tetap menjadi magnet tersendiri yang menyeret para pelajar ke kota ini. Sejak seminggu kemarin kota yang dikenal dengan nasi Gudegnya ini disesaki dengan deretan bus-bus paraiwisata yang datang dari luar kota. Meraka nampakanya adalah para pelajar yang ingin melihat secara dekat kota yang pernah menjadi ibu kota Negara ini. Kamera dan perangkat penangkap gambar lainnya menjadi teman sejati mereka untuk memonomentalkan moment-moment liburan yang bergairah tersebut. Tak jarang di bantaran trotoar Malioboro, tepatnya di depan Tugu Serangan Umum 11 Maret mereka berjejer sambil memintakan foto pada pengguna jalan yang kebetulan melintas di area tersebut.

Cukup beragam para pengunjung baru Kota gudeg ini, mulai dari mereka yang baru duduk di Sekolah Dasar sampai para mahasiswa. Di kota Yogyakarta ini mereka akan banyak menemukan tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi. Sejarah dan budaya menjadi menu menggairahkan bagi para visitor, sekaligus sebagai satu-satunya yang unik pembeda dari kota-kota lainnya. Selain kawasan keraton yang masih sangat kental dengan adat dan budaya Jawanya, di lain sisi Jogja juga merupakan kota pelajar tertua di tanah air ini. Mereka para pengunjung akan menyaksikan sekian ratus kampus perguruan tinggi yang beridiri hampir di setiap sudut kota ini. Pokoknya Jogja tiada duanya di negeri ini…..!!!

Bagi mereka yang hobi mengoleksi barang-barang bernuansa khas Jawa-Jogja, sangat mudah dijumpai di kota ini. Cukup berjalan di sepanjang trotoar Malioboro barang-barang tersebut akan berderet rapi mulai dari selatan hingga ujung paling selatan. Tinggal memilih sesuai dnegan budget dari masing-masing pengunjung. Malam hari di kawasan ini akan dijejali oleh ribuan manusia. Karena nuansa Malioboro memang snagat enak bila dinikmat pada malam hari, seolah pada malam hari ruh dari ruas jalan ini benar-benar menampakan keeksotisannya. Tidak ke Malioboro sama dengan tidak pernah ke Joga. [ijan]

Jumat, 2009 Juni 12

Pelepasan Santri Kelas VI Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta

(Prof. Din Syamsudin :"Why we Not The Best")


Mua'llimin Muhammadiyah Yogyakarta untuk kali ke-83 melepas alumninya. Pelepasan itu dilaksanakan kemarin 7 Juni 2009 di halaman tengah madrasah. Pelaksanaannya terkesan sederhana untuk ukuran Jogja sebagai salah satu kota pendidikan ternama di negeri ini. Hanya menggunakan empat terop yang menaungi sekitar empat hingga lima ratusan undangan yang terdiri dari wali santri, guru, karyawan dan undangan umum lainnya. Walau Nampak sederhana tapi prosesi pelepasan ini tetap menjadi momentum bersejarah bagi Mu'allimin dan para siswa terkait.

Lepas dari itu ada kesan yang cukup melekat di benak setiap undangan yang hadir, walau secara kemasan luarnya nampak sederhana, tapi pada hakikatnya pelepasan santri kelas akhir kali ini mempunyai arti penting bagi setiap yang hadir waktu itu. Menjadi penting karena pelepasan kali ini dihadiri langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsudin. Untuk pertama kalinya saya secara pribadi bisa melihat langsung orang penting nomor satu di persyarikatan Muhammadiyah ini. Wajahnya yang sejuk serta suguhan senyumannya yang dilemparkan pada para undangan menandakan kalau beliau adalah seorang tokoh yang mampu menjadi bagian dari umat. Begitu mengesankan….!!!

Kedatangan beliau dengan mengendarai sedan hitam disambut hangat oleh Direktur Mu'alliminnUst. Ikhwan Ahada dan para hadirin. Selang beberapa menit setelah kedatangan beliau, pembawa acara langsung mempersilahkan beliau untuk memberikan tausiyah, pesan dan penyerahan kembali para sntri kepada masing-masing wali santri. Dimulai dengan salam serta muqoddimah B. Arab yang sangat fasih menjadikan saya sangat terkesimak oleh pukauan penampilan beliau. Lulusan KMI Gontor ini selain B. Arabnya sangat fasih tapi secara artivisial mempunyai gaya retorika yang sangat menarik. Gaya retorikanya mampu menghangatkan suasana, banyak guyonan-guyonan tulusnya yang sesekali membuat para hadirin tersenyum.

Beliau mempunyai harapan agar para kader Muhammadiyah mampu bersaing di tengah-tengah perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Untuk itulah diharapkan kader-kader Muhammadiyah, khususnya santri yang baru dilepas mampu dan bisa memasuki bidang-bidang terapan ilmu yang ada. Karena menurut beliau saat ini tidak berlaku lagi dikotomi Ilm pengetahuan, bagi beliau tidak ada Ilmu Agama dan Imu Umum, keduanya adalah perpaduan yang tidak bisa dipisahkan. Mu'allimin sebagai kawah candradimuka-nya Muhammadiyah harus bisa melahirkan kader-kader yang tidak hanya menjadi ulama-ulama agama tapi juga mampu melahirkan ulama ekonomi, ulama politik dan ulama-ulama di bidang-bidang lainnya. Walau demikian Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga harus mempunyai kader-kader khusus yang benar-benar paham dan mengerti tentang agama (mtafakkih fiddin). Penyiapan kader-kader khusus itu merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan, begitu ulas beliau yang menganalogikan pada adanya Kopasus di tubuh TNI sebagai sebuah contoh.

Di tengah-tengah pidatonya, beliau juga menyempatkan untuk berdialog dengan para santri yang baru dilepas dengan memanggil dua orang untuk maju ke depan. Sengaja beliau memanggil santri yang sudah diterima di perguruan-perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri, untuk yang di dalam negeri beliau meminta santri yang diterima di ITB dan yang dari luar negeri beliau meminta yang diterima di Al-Azhar Kairo. Kemudian beliau mengajak dua orang santri yang dimaksudkan tadi berdialog mengenai alasan memilih perguruan tinggi pilihannya dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Untuk yang di terima di Al-Azhar beliau menggunakan dialog B. Arab, walau dapat dijawab tapi jawabannya masih terkesan kurang lancar dan terlihat tergagap-gagap. Menurut hematku tidak selayaknya untuk ukuran seorang alumni menjawab dengan gagap, tapi begitulah suguhan kenyataan yang harus menjadi bahan renungan bagi setiap guru di Mu'allimin. Dialog dilanjutkan pada santri yang diterima di ITB dengan menggunakan B. Inggris. Jawabannya lumayan lebih baik dari sebelumnya, walau harus disadari memang ada kekurangan yang juga harus menjadi perhatian para guru. Begitulah dialog ini berlangsung hingga kemudian diakhiri dengan tepuk tangan para hadirin.

Selain dari pada itu beliau juga mencurahkan harapannya pada Mu'allimin untuk terus berinovasi dengan mencampakkan rasa puas pada apa yang telah digapai. Artinya apa yang telah digapai oleh Mu'allimin saat ini jangan sampai menjadikan Mu'allimin puas, karena masih ada sekian banyak tujuan-tujuan yang lain yang belum tersentuh. Seperti planning masalah Madrasah bertarap Internasional adalah sebuah rencana yang harus bisa dilakukan oleh Mu'allimin sebagai lembaga kader. Muhammadiyah secara umum belum memiliki lembaga pendidikan Ideal tersebut, padahal umat di luar Islam sudah banyak yang memilikinya. Maka harapan yang begitu besar ini menjadi agenda utama yang benar-benar harus dijalankana oleh Mu'allimin. Peluang-peluang itu sudah mulai ada, misalnya dengan adanya tawaran tanah 10 H di daerah Godean adalah sebuah realitas yang mengisyaratkan kalau Mu'allimin sebagai lembaga pendidikan kader bisa menggapai impian itu. Sekarang tinggal kapan mau memulai. Motivasi dan impian baik itu diharapkan secepatnya dimulai walau disadari memulai itu sangat sulit.

"Lebih cepat lebih baik (Fastabiqul Khoirot)" ini adalah petikan pidato beliau yang meminjam slogan salah satu kandidat presiden. Beliau sangat setuju dengan slogan ini dalam tanda kutip niat dan maksud yang baik bukan dalam konteks mengkampanyekan kandidat presiden terkait. Begitulah petikan pidato beliau yang kemudian diiringi dengan tepuk tangan dan tawa dari para hadirin. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa semua yang nyata saat ini berawal dari sebuah mimpi, untuk itulah beliau menginginkan kader-kader Muhammadiyah menjadi pemimpi ulung dalam artian realistis-logis, serta penggila-penggila (pekerja-oekerja keras) sebagai implikasi dari makna gerakan yang ada di tubuh Muhammadiyah itu sendiri.

Lebih dari satu jam beliau berpidato menyampaikan harapan-harapannya pada para siswa dan Mu'allimin. Akhirnya di penghujung pidatonya beliau menyerahkan kembali para siswa yang baru dilepas itu pada walinya masing-masing. Sebelum akhirnya kembali ke tempat duduk, beliau diminta untuk memberikan amanah tertulis yang berbunyi " Kenapa kita tidak lebih baik, why we not the best". [ijan]

Rabu, 2009 Mei 13

MENGEJAR MIMPI INDAH (Pertemuan IKBAL Jogja)

Pertemuan dengan teman-teman alumni tanggal 12 Mei 2009 kemarin merupakan pertemuan yang memberiku banyak arti. Pertemuan itu adalah kali pertama selama hampir 6 bulan keberadaanku di kota Gudeg. Pantas kalau hampir semua diantara mereka mempertanyakan seputar kedatanganku di kota yang pernah menjadi ibu kota Negeri ini. Sambutan mereka sebagai seorang alumni terhadap teman sealmamaternya cukup hangat, mengingatkanku pada pondok yang selama ini telah menorehkan benih-benih kedewasaan dan persaudaraan. Tawa dan sapaan keakraban begitu sangat kental, menjadi pelipur kerinduanku pada Madura sebagai pijakan pertamaku mengawali proses perjuangan mengarungi bahtera kehidupan.

Pertemuan yang berlangsung di rumah Ust. Fathurrahman itu walau jauh dari kesan istimewa secara kemasan, namun mempunyai kesan yang cukup istimewa bagi diriku. Perhatian pertama yang memukau perasaanku tat kala bertatap dengan Ust. Fathurrahman seorang alumni tahun 1995 kelahiran asli tanah Prenduan itu yang kini bisa dibilang sudah bisa menuai jerih payahnya. Kepribadiannya yang santun serta loyalitasnya yang tinggi pada Al-Amien menjadikan kami (aku dan teman-teman) tidak canggung untuk bertegur sapa, walau kini beliau boleh dibilang sebagai salah seorang yang mempunyai posisi penting di ranah intelektual UIN Sunan Kalijaga. Posisi beliau sebagai dosen pada Fakultas Syari'ah di UIN tidak menjadikan beliau menjaga jarak pada kami yang kebetulan salah seorang diantara kami adalah Mahasiswanya. Aku benar-benar kagum...!!!

Aku kagum dan takjub dengan beliau yang kini bisa berdiri dengan tegak di tanah bukan kelahirannya. Aku dapat merasakan kalau beliau ini seorang pejuang, pekerja cerdas dan tangkas yang bisa membaca peluang dan tantangan. Tidak mungkin posisi yang cukup strategis saat ini didapat dengan berpangku tangan. Beliau benar-benar telah mampu melewati sengitnya multi-agresi di tanah rantau. Mengagumkan....!!

Di tengah kekagumanku tiba-tiba terbesit untuk mengorek diriku yang saat ini masih berproses. Timbul pertanyaan bisakah aku dengan keterbatasan serta kelebihan yang aku miliki bisa mencapai target-target impianku?. Pertanyaan sederhana yang tidak membutuhkan jawaban leteral atau verbal, tapi lebih dari itu adalah aksi nyata. Hidup menyuguhkan realitas yang selalu bersinggungan dengan sentuhan konkret. Hidup tidak cukup hanya berada dalam naungan ide, sehingga tidak perlu terlalu diidealiskan. Pada beberapa sisi ide memang tidak sepenuhnya dicampakkan tapi juga sering kali harus diikutkan sebagai penyeimbang dari gerak konkret yang dikhawatirkan tergelincir. Selama gerak konkret itu tidak menyimpang dari rel-rel agama maka sejauh itu ide harus diikutkan sebagai identitas seorang pejuang yang bekerja dengan Ilmu('ala ilmin). Inilah mungkin pembeda antara pekerja yang hanya mengandalkan otot dengan pejuang-pejuang ulung ala Ust. Fathurrahman yang beprinsip bekerja cerdas bukan bekerja keras.

Mimpiku jauh membumbung tinggi ke angkasa melampaui batas rongga-rongga langit alam ini. Mulai dari mimpi kesuksesan secara finasial sampai pada menduduki tahta yang penuh dengan gemerlap kenikmatan. " Hah..." sedikit aku menghela nafas sambil sunggingkan senyum tipis seakan menertawakan diri sendiri. Kemudian sunggingan senyum itu aku akhiri dengan perasaan optimis seumpama mimpi itu adalah masa depan yang dekat yang bisa kapan saja aku gapai. Aku sadar mungkin teman-teman IKBAL atau bahkan Ust. Fathurrahman sendiri akan ikut menertawakan diriku seandainya mereka tahu saat itu aku bermimpi indah di tengah gelaran mesra persaudaraan. Tapi aku akan dengan cueknya meneruskan mimpi itu dengan sambil berucap canda pada mereka " Bermimpi itu kan tidak usah bayar, jadi gak usah ditertawakan lah, apalagi sampai dilarang".

Sambil terus mengobrol rencana-rencana IKBAL Jogja ke depan, mimpi-mimpi itupun berlalu seiring ludesnya kripik kepeng ala Prenduan bersambelkan kacang pedas di depanku."Wuuuh...." rasa pedas nikmat itu memintaku untuk minum untuk hilangkan pedas. Keringat membasahi kening walau saat itu hembusan angin malam di depan rumahnya Ust. fathurrahman tak hentinya menerpa wajahku. Teman-teman yang lain tanpa dikomando juga berdesis nikmat. Benar-benar malam itu adalah malam yang memeprtemukan aku dengan mimpi, dan kenikmatan yang menyisakan semangat menggelora untuk menggapai mimpi itu. Semoga saja mimpi itu tidak tertelan pagi lalu lenyap digusur siang,aku akan selalu dengan semangat mengejar mimpi-mimpi itu.

Senin, 2009 April 13

Kilas Contrengan di Balik Keindahan Borobudur

Sudah berlalu contrengan untuk pemilihan calon legislatif, namun sayang sekali aku tidak bisa memberikan suara pada contrengan kali ini. Aku tidak terdaftar sebagai pencontreng di tempat baruku ini, toh walaupun terdaftar aku juga tidak bisa menentukan contrengan yang tepat. Selain tidak pernah mengenal sosok para calon, juga karena aku bukanlah orang asli Jogja. Ya ....masih beruntung tidak terdaftar, daripada terdaftar lalu kemudian bingung he...he...

Statusku pada contrengan kali ini benar-benar menjadi Golput tulen namun masih beralasan karena kendala tekhnis, kemudian di beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai golput tekhnis. Artinya mereka kelompok yang tertahan suaranya karena terbentur dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk memeberikan suara, baik itu karena lokasi atupun kendala-kendala yang lain yang disebabkan oleh sistem yang buruk. Anehnya para golput di ibukota mencapai 40 persen bahkan konon hal ini berlaku untuk Nusantara secara umum. Jumlah yang cukup besar, untuk sementara persentase golput jika dibandingkan dengan jumlah perolehan suara partai yang mempunyai suara terbanyak (Demokrat), golput masih mengunggulinya. Dengan demikian golput menempati posisi puncak sebelum Demokrat. Terus Golput menang dong he..he...!!!

Tidak salah aku di pihak golput, karena masih tergolong banyak jika dibandingkan dengan partai pendatang baru yang notabenenya telah mengeluarkan budget yang lumayan tinggi mencapai milyaran rupiah. Namun golonganku ini sangat ekonomis, bahkan kampanyenya tidak pernah tergelar sekalipun, apalagi iklan di TV, tidak sama sekali. Sebenarnya gejala sosial ini cukup unik serta mengundang banyak praduga dari berbagai kalangan. Ada yang berparduga karena munculnya kebingungan sehingga lahirlah prilaku abstain. Praduga lain ada ketidak puasan dari para golput pada pemerintah serta menganggap pemilu kali ini hanya sekadar formalitas yang tidak akan memebrika perubahan apapun pada bangsa ini. Wah pokoknya banyak deh pertanyaan lain yang tentunya membutuhkan analisis dalam. Ah sudahlah let gone be by gone.

Untuk mengisi hari kosongku tanggal 9 April yang lalu aku duduk manis di depan komputer hanya untuk chat n browsing mengubur sepi yang mengusik. Sepi, karena saat itu hampir semua penghuni asrama mudik untuk mencontreng. tersisa aku dan beberapa orang yang tergolong mempunyai daerah jauh dari Jogja. Bergulir begitu cepat, sehingga tanpa terasa sorepun menjemputku dan menggelar kesunyian di belantara malam. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa ada yang mengangggu ketenangan dan kedamaian hatiku. Sehingga pagipun menyambutku dengan lebih meriah lagi, karena pagi di Jum'at itu aku bermain Futsal yang merupakan agenda mingguan terfaforit.

Lepas bermain futsal menajdi rutinitas tak tergantikan yaitu harus mengisi perut yang sudah mulai bermusik ria. Dengan tujuan mengisi perut akhirnya aku meluncur mencari lokasi kuliner. Bertujuan ke depok untuk menikmati ikan cakalan namun akhirnya tujuan itu berbelot menuju Magelang dengan Brobudur sebagai sasaran terakhir. Kurang lebih 2 jam akhirnya aku sampai di daerah Borobudur. Lumayan mengangumkan untuk diriku yang baru akli kedua menginjakkan kaki di lokasi yang pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Udara panas serta waktu yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju candi, akhirnya aku bersama tiga orang temanku duduk santai di salah satu warung di luar lokasi wisata untuk mengisi perut yang sedari tadi meminta haknya. Satu porsi gulai kambing lengkap dengan minumnya dalam hitungan menit dilibas habis tak tersisa. Keringat puas mengguyur seakan memberitahukan nikmat yang baru saja tersaji. Tidak berselang setelah itu, aku tunaikan sholat Jum'atku di masjid yang berada persis di samping warung. Al-Hamdulillah.....

Cukup lama aku menikmati Borobudur yang megah memepesona itu. Terhitung menjelang Ashar hingga jam 17.00. Suguhan Brobobudur kali ini free untukku dan teman-temanku karena sebelum ke Brobudur kami sempat singgah ke rumah teman yang kebetulan mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Brobudur.Tanpa dipunguti apapun kami semua dengan leluasa menikmati Brobudur dengan puas. Akhirnya kami tinggalkan brobudur dengan riang, lepas dari berbagai belunggu. Itulah seputar aktifitasku di libur cintrengan lima tahunan kali ini.

Minggu, 2009 Maret 29

CATATAN SEBELUM MENCONTRENG

Pemilu atau pesta demokrasi hampir mempunyai persamaan dengan pesta judi yang mengundang banyak komentar dari masyarakat luas. Agenda lima tahunan negeri ini menyimpan banyak wacana serta realita untuk didiskusikan, didialogkan, dikomentari atau bahkan ada kalangan yang mengapresiasikan dengan tingkah komedi. Beragam bentuk apresisasi tersebut tumbuh dari semua kalangan masyarakat, dari kalangan yang paling elit sampai pada kalangan yang hanya hidup mengandalkan dengkulnya saja. Semua kalangan merasa penting untuk membicarakan wacana dan realita yang terjadi, terkait dengan contrengan yang tak lama lagi akan digelar.

Mempersepsikan pemilu dengan judi memang sebuah persepsi memungkinkan adanya kedekatan karakter diantara keduanya. Pemilu kali ini dengan bertabur partai dan caleg-calegnya bagaikan beribu penjudi yang datang ke meja judi untuk bertaruh, mengadu nasib dengan taruhan yang variatif. Dari sekian partai dan caleg yang ada, mereka datang dengan jumlah nominal modal materi yang cukup tinggi, bahkan ada yang sampai menelan biaya miliyaran rupiah. Sebuah pertaruhan judi spektakuler demi merebut kursi kedudukan yang empuk bersantapkan kucuran rupiah tak terhingga.

Jika wacana gambaran kursi empuk DPR di atas menjadi target dari masing caleg dan parpol maka agenda sejati demokrasi yang diusung negeri ini telah gagal. Perubahan pada laju pemerintahan yang akan datang tidak akan memberikan arti perubahan apa-apa pada negeri ini. Malah akan terjadi dekonstruksi total yang kemudian akan menambah penyakit pada negeri ini. Karena yang menang dan yang berhak maju untuk duduk di kursi DPR nantinya akan mengerogoti negeri ini dengan mengeruk kekayaan Negara untuk mengembalikan modal taruhan yang dipakai selama masa kampanye. Inilah opsi agenda pertama yang kemungkinan akan dijalankan oleh bapak dan ibu caleg terpilih yang bejat.

Prediksi di atas memang merupakan prediksi buta, namun jika dilihat dari dana kampanye yang begitu sangat tinggi serta gaji DPR yang tidak memungkinkan dana modal kampanye tersebut kembali, memungkinkan pilihan mengeruk kekayaan milik Negara akan menjadi agenda awal dari beberapa caleg bejat tak bermoral. Wacana ini sering kali terdengar di beberapa warung kopi pinggir jalan sekaligus menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh sebagian besar rakyat di negeri ini. Terkesan sebuah prediksi murahan namun kemungkinannya sangat dekat terealisasi pada fakta yang sesungguhnya.

Walau tidak semua caleg dan parpol seperti ilustrasi di atas, tapi tipikal caleg sebagian besar memang masih berorientasi pada kesenangan pribadi atau boleh dinamakan Lover of Pleasure. Tipikal pemimpin yang seperti inilah yang terkategorisasikan pada para pemimpin yang berdeketan dengan tipikal para penjudi yang mengharap dengan taruhan duitnya akan mendapatkan menuai banyak keuntungan yang merugikan orang lain. Makna ekplesitnya pemimpin yang seperti ini para penurun gen hedonisme yang mengagungkan nafsu sebagai motor penggerak dari setiap langkahnya.

Fakta konkrit yang terangkat lewat media dan yang terpampang di depan mata sudah sangat banyak. Salah satunya adalah, wujud janji muluk yang sering dengan ringan mereka celotehkan di depan masyarakat guna mendulang suara di contrengan 9 April nanti. Serasa mulut mereka berceloteh tanpa beban serta tanpa memikirkan kemungkinan tantangan yang akan dihadapinya nanti. Mereka tidak menyadari kalau negeri ini mempunyai banyak problem yang tidak bisa diselesaikan dengan sekali bim-salabim. Janji spektakuler non realistis ini menandai kalau mereka berjajni tidak berdasar kesadaran, namun lebih tepatnya janji-janji mereka bersumber dari nafsu. Janjinya memang sesuatu yang ideal dan harapan seluruh rakyat, namun juga perlu diingat kalau perjalanan tidaklah selalu mulus.

Selain dari fakta tersebut di atas adanya kebohongan simpati yang tersajikan lewat aksi konyol mereka yang tidak segan-segan membuat sakit perut karena kelucuannya. Betapa tidak dikatakan sebuah aksi konyol, jika sebelum ini mereka dengan enggan menginjakkan kakinya ke tempat-tempat becek, tapi pada saat ini malah mereka dengan aksi konyolnya turun ke sawah mengetam padi seakan selama ini mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para petani. Begitu sangat kentara kekonyolan dan kebohongan mereka di muka publik. Mereka seakan paling paham penderitaaan rakyak kecil padahal sebelum ini mereka dengan angkuhnya mencibiri dan tidak mau tahu keadaan rakyat kecil. Di pojok lain negeri ini juga terdapat realita konyol lainnya, beberapa caleg dengan senyum fatamorgananya menebar pesona dengan cara membagi-bagi sembako sementara sebelum ini dia adalah orang yang kebal akan penderitaan tetangganya. Kalau demikian keadaannya, dinilai kategori apakah kebaikan tersebut??

Berangkat dari suguhan fenomena riil di atas maka kemudian lahirlah patokan tipikal seorang pemimpin yang bisa dan layak dicontreng. Jika tipikal suguhan fenomena riil ditas adalah mereka para pemimpin yang bertipe Lover of Pleasure maka tentunya pemimpin yang setidaknya mewakili tipikal seabrek tipikal ideal lainnnya adalah para pemimpin yang bertipikal Lover of Wisdom. Hanya para pemimpin yang cinta keadilan saja yang bisa menempatkan diri dan mampu menata Negeri yang sembraut ini, karena pemimpin yang seperti ini cenderung realistis dan tidak terlalu mengumbar janji yang muluk-muluk. Lebih mengedepankan hati yang kemudian juga tidak mengesampingkan otak sebagai sarana berfikir untuk mengejawantahkan frame keadilan pada kehidupan konkrit. Selanjutnya kemampuan memposisikan dirinya serta membagun dialog terbuka dan konstruktif menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kecintaannya pada keadilan.

Catatan terakhir, tulisan ini memang tidak lepas dari sebuah kepentingan, karena hidup memang penuh dengan kepentingan. Tapi perlu disadari kepentingan yang tersajikan lepas dari kepentingan kelompok tertentu, paling penting catatan ini lepas dari mengajak atau melarang seseorang untuk memilih pilihan tertentu. Catatan ini adalah murni bersumber dari endapan emosi penulis selama mengikuti perkembangan hiruk pikuk laju pesta demokrasi di negeri ini. Hak menentukan pilihan semuanya berada di tangan masing-masing pribadi. Selamat Mencontreng…..!!!!

Selasa, 2009 Maret 24

Wajah Negeri Menjelang Contrengan

Pesta Demokrasi di neger ini sudah mulai digelar dengan didahului oleh kampanye partai politik beserta calon legislatifnya. Menarik untuk diperbincangkan serta cukup menngemaskan untuk diikuti perkembangannya, sehingga hampir semua stasiun televisi meliput secara khusus pagelaran lima tahunan ini secara lebih serius dan inten. Beranika macam nama program liputan ini dikemas, ada yang menamainya Rakyat memilih, contreng, election Chanel dan lain sebagainya, namun seluruh acara itu sama-sama menyuguhkan liputan seputar pemilu. Begitu sangat semarak media dan rakyat negeri ini menyambut pagelaran pesta demokrasi tersebut.

Gambaran semaraknya pesta demokrasi itu tidak terlepas dari harapan masing-masing rakyat di negeri ini. Artinya rakyat saat ini begitu cukup senang dengan pagelaran tersebut dengan harapan nantinya terbangun pemerintahan yang lebih menjamin kemerdekaan dari berbagai macam belenggu penjajahan. Selama ini kalau boleh dibilang negeri ini masih berjalan di tempat atau bahkan mungkin malah tambah ke belakang, banyak program dan cita-cita bangsa ini yang terabaikan begitu saja tanpa adanya perhatian yang serius dari para pemimpin bangsa ini. Sehingga kadang menjadikan rakyat kesal, tak jarang kemudian memunculkan persoalan baru. Salah satu cita-cita negeri ini yang terabaikan adalah menjadikan setiap rakyatnya merdeka, merdeka dari kemeskinan, terpenuhi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraannya. Cita-cita luhur ini memang bukanlah perkara mudah, tapi paling tidak pemerintah dapat mencicil sedikit demi sedikit mewujudkannya, bukan malah merongrong negeri ini dengan tingkah bejatnya yang semakin parah. Kasus Korupsi jumlahnya semakin spektakuler bahkan menjelang contrengan baru-baru ini salah satu wakil rakyat terlibat dalam kasus tersebut. Memilukan...!!!

Itulah wajah negeri ini yang kian carut-marut dengan tingkah para pemimpinnya yang semakin tidak tahu malu. Menyitir komentar Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakrata menyatakan bahawa, "negeri ini telah kehilangan cita-citanya atau telah terjadi fragmentasi cita-cita". Masing para pemimpin mengusung cita-cita individu atau kelompoknya sehingga kerja dan pengabdiaanya tidaklah untuk seluruh rakyat negeri ini tapi melainkan untuk dirinya dan kelompoknya. Pada faktanya kemudian melahirkan praktek amoral seperti mengeruk kekayaan negera serta membuat keputusan-keputusan yang merugikan negara dan rakyat. Inilah gambaran moral dari sebagian para pemimpin negeri ini.

Momentum Pemilu saat ini benar-benar menjadi harapan terakhir rakyat untuk dipenuhi hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para pemimpin yang rakus. Namun rakyat kembali menuai beberapa problem yang sedikit membuat khawatir, karena beberapa partai dan calon legislatifnya ada yang masih mengusung cita-cita kelompok tanpa mau membangun dialog untuk mengintegralkan cita-cita tersebut menjadi cita-cita bersama untuk membangun negeri ini. Anggapan ini tergambar lewat siaran live salah satu satsiun televisi yang menyguhkan debat partai. Pada acara tersebut cukup terlihat bagaimana tergambar di raut serta lewat celotehan mereka para petinggi partai dengan gagahnya merasa paling sempurna, bahkan ada yang merasa menang debat dengan menggagahi lawan debatnya. Acara tersebut kalau boleh dibilang sebuah kamuflase yang menyughkan betapa dangkalnya kompetensi dasar yang dimilki para calon para pemimpin ini dengan memamerkan kebodohannya lewat adu argument yang dikemas dengan pilihan pro dan kontra. Cukup jelas kemasan program debat ini yaitu menggunakan frame pro dan kontra. Sebuah frame yang kurang membangun serta kurang bermartabat bagi sebuah partai di sebuah republik. Acara itu hanya pas bagi anak-anak sekolahan saja untuk melatih kemapuan berbahasa.

Lebih tragis lagi ada beberapa caleg dadakan yang boleh dibilang kurang relevan untuk menjadi wadah penampung aspirasi rakyat, karena adanya kompetensi dasar yang belum dikuasai betul oleh calon yang bersangkutan. Terlihat pada beberapa kasus seperti adanya pemalsuan ijazah, tindakan anarkis di beberapa tempat di negeri ini karena ulah caleg dadakan. Kemudian ada lagi beberapa diantara mereka yang berkampanye tidak pada rel yang telah ditentukan. Satu lagi yang menambah problem serta mungkin bisa membuat rakyat bingung untuk memilih yaitu adanya caleg yang pindah-pindah parpol, atau kalau oleh dibilang caleg kutu loncat. Jelas sekali caleg yang seperti ini hanya mengejar kedudukan bukan ikhlas membangun negeri.Jadi samapai saat ini rakyat hanya tenggelam dalam hiruk pikuk hiburan yang digelar pada suatu kampanye tidak pada kemeriahan karena partai dan calegnya yang ideal. Lalu??? terserah Anda bagaimana menyikapi persoalan ini. Selamat Mencontren...!!!