Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 25 Maret 2010

MENEMUKAN MUTIARA CINTA*

Pengantar
Menjadi sangat hangat ketika cinta menjadi suatu perbincangan. Jika boleh dikatakan, cinta merupakan magnet terhebat yang mampu menyeret siapa saja untuk mendekat padanya tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama. Artinya, cinta tanpa disadari adalah hal yang melekat secara natural pada diri manusia. Untuk itulah, persoalan cinta tetap merupakan persoalan yang cukup sensitif dan aktual untuk dibicarakan kapan dan dimana saja.

Cinta memang mempunyai banyak dimensi. Para kaum spiritual mengkorelaiskan cinta dengan bergumulnya kepasrahan bersama sang Maha Pencita. Para filsuf melekatkan cinta sebagai sebuah media penghantar pada sebuah kebenaran. Demikian cukup plural dimensi cinta tersebut, namun yang menjadi titik persoalan pada perbincangan cinta yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah, cinta yang biasa menjadi konsumsi kaum muda-mudi pra nikah.

Setiap yang merasakan muda jika mau jujur pasti berjumpa dengan persoalan cinta. Realita banyak menyuguhkan, begitu banyak persoalan-persoalan yang diakibatkan oleh cinta. Jika merujuk pada cerita-cerita fiktif, begitu cukup banyak tokoh fiktif dalam pesoalan cinta. Sebut saja, Qois dan Laila di Timur Tengah, Romeo dan Juliet di Barat,mereka adalah tokoh-tokoh fiktif yang digambarkan sebagai orang-orang yang mabuk asmara lalu kemudian berujung dengan kondisi semi gila. Adapun yang lebih aktual bisa dilihat pada KCB-nya Habiburrahman El-Sirazi, disitu terdapat gambaran kepanikan, kekecewaan dan kebahagiaan yang diakibatkan oleh cinta. Dengan demikian, persolan cinta tidak terhenti hanya pada suka atau tidak suka, akan tetapi ada sisi-sisi lain yang perlu mendapat eksplorasi lebih jauh.

Salah satu hal yang cukup representatif untuk menjadi titik perbincangan pada persolan ini adalah, ketika cinta itu hinggap pada setiap hati muda-mudi di negeri ini. Distulah kemudian banyak persoalan yang sering terungkap ke permukaan, diantaranya banyak muda-mudi yang belum mampu memaknai cinta yang sebenarnya. Sering kali persoalan birahi lebih dominan daripada kesucian cinta itu sendiri. Sehingga banyak persoalan yang muncul setelahnya. Sebagai akibat yang cukup vatal adalah, adanya kerugian-kerugian yang diderita oleh pihak-pihak tertentu. Secara konkret banyak ditemui di pojok-pojok negeri ini perempuan-perempuan terlantar bersama anaknya tanpa pertanggung jawaban dari pasangannya. Hal ini salah satu bukti adanya ketimpangan interpretasi terhadap cinta.

Ketimpangan yang demikian tentunya adalah bagian dari tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Sebagai salah satu bentuk tanggung jawab yang perlu digagas adalah, adanya semacam pengarahan atau pendidikan cinta di kalangan anak muda. Karena jika dilirik lebih dekat, kasus-kasus asusila yang tersuguhkan pada tatanan sosial tesebut merupakan akibat minimnya pengetahuan mereka terhadap agungnya cinta. Salah satu cara untuk mengajarkan pendidikan cinta kepada mereka adalah kembali pada tatanan dan tuntunan agama.

Tulisan ini akan menghadirkan seperangkat tuntunan (guide) untuk kaum muda-mudi muslim dalam menyelami samudera cinta pada perjumpaan mutiara cinta. Secara konkret, tulisan ini akan memaparkan bagaimana semestinya seorang pemuda atau pemudi muslim dalam membangun cinta yang dapat membawa kehidupan pada kedamaian dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak. Selanjutnya adalah suatu harapan agar pemuda atau pemudi bisa lebih menghargai cinta sebagai anugerah terindah dari Allah SWT.

Menuju Mutiara Cinta
Sebagai muslim, mengembalikan pada ajaran Islam adalah keniscayaan. Islam sebagai agama yang sangat manusiawi (Relegion of Humanity) memberikan keluasan kreatifitas kepada setiap umatnya, termasuk di dalamnya dalam hal cinta. Islam tidak pernah menyalahkan seorang pria menyukai seorang wanita, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi regulasi pemanfaatan anugerah Allah yang berupa cinta tersebut terdapat dalam ajaran Islam. Salah satu bentuk ajaran Islam dalam hal bercinta adalah menjadikan cinta sebagai sarana untuk menggapai dunia sekaligus kebahagiaan akhirat.

Secara hirarki, ada tahapan-tahapan yang memperbolehkan sepasang pria wanita untuk saling “mengenal”. Proses itu dihalalkan kalau seandainya memang terdapat keseriusan untuk menuju jenjang pernikahan sebagai sarana pendidikan cinta yang legal dalam syariah Islam. Adapun tahapannya yang biasa dikenal dalam regulasi pendidikan cinta dalam Islam adalah : proses ta’aruf, nadhr, khitbah dan sebagai finalnya adalah nikah. Inilah proses yang harus dijalani sepasang kekasih jika memang cinta telah menghinngapinya.

Satu hal yang cukup penting sebelum akhirnya benar-benar menapaki jenjang regulasi tadi adalah, kewajiban setiap individu untuk mengetahui profil-profil ideal yang akan bisa membawa hidup pada kesenangan dunia dan kesenangan akhirat. Jika merujuk pada Hadist Nabi ada empat kreteria pasangan yang ideal diantaranya adalah, kecantikan, agama, harta dan nasabnya. Walaupun secara literal hadits ini dialamatkan kepada seorang laki-laki, tetapi secara substansi perempuan juga punya hak untuk menggunakan kreteria tersebut.

Empat kereteria yang disarankan oleh Nabi merupakan seperangkat pertimbangan yang setidaknya bisa dijadkan patokan oleh pemuda atau pemudi muslim sebelum akhirnya masuk pada jenjang pernikahan. Empat kreteria itu menjadi penting untuk diperhatikan agar sebuah pernikahan (pendidikan cinta) bisa mencapai cita-cita universal kehidupan. Cita-cita universal dalam Islam itu berupa keridlaan Allah yang berupa firdaus-Nya kelak di akhirat. Namun, empat keteria itu adalah kondisi sempurna (perfect) yang cukup sulit ditemukan dalam kehidupan riil. Lalu bagaimana seharusnya?
Diakui, memang cukup sulit menemukan pasangan sempurna seperti profil yang disarankan Nabi. Berikut penulis mencoba menyeret persolan ini pada tataran praktisnya. Sejatinya, tujuan dari sebuah bangunan cinta adalah membentuk generasi penerus yang lebih baik. Jika merujuk pada tujuan ini maka yang perlu disiapkan adalah pasangan yang mampu meramu penerus masa depan yang handal. Meminjam istilah K. Idris dalam buku pesan-pesan untuk para santrinya ada empat kreteria seorang wanita untuk dinikahi. Empat kreteria itu adalah; Sholehah linafsiha, Ro’iyah fi Baiti Zaujiha, Murobbiyah li auladiha, Qoidah Liqoumiha. Inilah seperangkat rujukan bagi seorang laki-laki untuk membangun cinta.

Jika memahami lebih dalam dari empat kreteria yang disarankan di atas, maka yang tergambar adalah seorang calon ibu rumah tangga yang mapan secara spiritual dan intlektual. Sholehah linafsiha bisa diartikan sebagai seorang wanita yang taat pada agamanya. Roi’iyah fi Baiti Zaujiha berarti seoang wanita yang mampu memenij lingkungan rumah tangga, sehingga tercipta kondisi yang membangun terbentuknya rumah tangga yang harmonis. Morobbiyah li awladiha adalah cerminan seorang ibu yang cakap dalam mendidik anaknya sebagai generasi pelanjut. Ibu adalah manusia pertama yang dikenal oleh seorang anak, maka keberadaan ibu begitu sangat signifikan di tengah-tengah anaknya, untuk itula profil seorang yang cakap secara intlektual adalah modal utama dalam mebimbing anak menadi generasi yang unggul. Kemudian sebagai yang terakhir dari empat kreteria tadi adalah, Qoidah Liqoumiha yang berarti seorang ibu itu juga dituntut untuk mampu berperan di tengah-tengah kaumnya (wanita) di lingkungan ia hidup. Artinya seorang wanita itu juga punya kesempatan untuk beperan dalam pembangunan di lingkungannya,khususnya di kalangan kaumnya sendiri.
Demikian cukup jelas empat kreteria itu sangat praktis sebagai seperangakt pijakan bagi laki-laki muslim dalam membangun cinta. Tentunya tidak adil rasanya jika kemudian hanya seorang laki-laki yang boleh mempunyai profil mengenai pasangan hidup. Para wanita sebenanrnya juga mempunyai profil, secara garis besar ada dua profil laki-laki yang mungkin bisa dipertimbangkan oelh seorang wanita. Pertama Al-Qowi yang berarti seorang pria yang diidamkan oleh wanita itu adalah seorang pria yang kuat. Kuat dalam arti yang luas, kuat secara financial,fisik, spiritual, intlektual dan lain sebagainya. Memang seorang laki diperankan sebagai seorang penaggung jawab dalam rumah tangga. Bagaiman mungkin laju pertumbuhan rumah tangga bisa stabil kalau seorang kepala rumah tangganya loyo, untuk itulah pria yang akuat adalah suatu idaman seorang wanita. Profil yang kedua adalah, Al-amien yang berarti seorang laki-laki selain kuat juga harus yang terpercaya. Banyak kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki, hal itu mengindikasikan seorang laki-laki cenderung menyeleweng. Untuk itulah seorang laki-laki terpercaya adalah profil laki-laki idaman bagi seorang perempuan.

Dengan melihat profil-profil yang disuguhkan di atas, rasanya pemuda-pemudi muslim akan lebih memaknai cinta sebagai sebuah anugerah Allah yang berorientasi pada keridlaannya. Cinta tidak sekadar gumulan nafsu tetapi cinta itu merupakan kesucian dan keindahan hidup yang perlu dijaga. Jika pofil-profil tersebut menjadi panduan dalam mebangun cinta, maka disitulah sebenarnya mutiara cinta itu.

Kesimpulan
Ulasan singkat di atas cukup untuk menggambarkan bagaiman cinta itu adalah satu kmponen hidup yang mempunyai peran besar dalam laju kehidupan manusia. Sehingga cinta tidak boleh diabaikan sebagai puncak klimaks yang hanya bernuansa keduniaan belaka, tetapi cinta adalah sarana penunjang kehidupan dunia yang dinamis dan kebahagian akhirat. Untuk memakmurkan dan mensucikan cinta dari berbagai amukan birahi hayawaniyah, manusia perlu pijakan dalam membangun cinta, adapun pijakan tersebut adalah agama dan ilmu (intlektualitas). Berpijak pada agama dan ilmu inilah akan ditemukan mutiara cinta yang akan semakin menggemerlapkan cinta. Cinta… cinta……..he,,,hehe….he…he….

*) Tulisan ini diadaptasi dari diskusi SMS Andria’s Happy